Pages

Subscribe:

MENU

Kamis, 17 Mei 2012

kumpulan jus yang sehat

Belakangan ini kita seakan tak terusik akan ramainya pertumbuhan restauran ataupun lesehan yang kian tumbuh menjamur,padahal itu merupakan momen penting untuk kita apa bila tertarik untuk berwira usaha.namun sebelum kita beralih kesitu kita harus punya gagasan yang tepat dengan apa yang hendak kita jajakan.nah di bawah ini merupakan beberapa resep jus sehat dan tentunya murah yang mungkin bisa jadi salah satu menu andalan anda


SAYURAN merupakan sumber makanan yang diklaim sehat. Kandungan antioksidan, mineral dan vitamin di dalamnya sangat baik untuk menjaga kesehatan tubuh dan menangkal radikal bebas. 

Anda dianjurkan untuk mengonsumsi lima takar sayur per hari untukmenjadikan tubuh Anda semakin sehat. Akan tetapi, memenuhi asupan ini bukanlah hal yang mudah, khususnya bagi Anda yang tidak terlalu gemar sayuran. Namun, Anda bisa mengakalinya dengan  mengonsumsi jus sayur. Jus membantu Anda memenuhi asupan tanpa harus menggigit sayur dalam jumlah besar. 

Berikut beberapa jus sayur yang bisa menjadi pilihan Anda: 

Brokoli. Sayuran ini padat nutrisi, kaya beta karoten dan serat. Selain itu, Anda juga bisa mendapatkan vitamin B1 dan C, sejumlah kalsium, sulfur dan kalium. Yang lebih mengejutkan lagi, 45 persen kalori dalam brokoli adalah protein. 

The National Cancer Institute menemukan bahwa kandungan inderol-3 dalam brokoli mengurangi risiko kanker payudara. Anda bisa mengonsumsi brokoli dalam bentuk jus. Untuk menambah rasa, cobalah memadukan dengan jus wortel atau apel. 

Kol. Proses memasak bisa merusak sebagian besar kandungan nutrisi di dalamnya. Selain itu, proses memasak juga akan menyebabkan munculnya gas dari sulfur. Karena itu, ada baiknya dikonsumsi dalam keadaan mentah. Anda bisa mendapatkan beta karoten, sulfur, vitamin C, dan selenium. Mineral ini sangat bagus untuk melawan kanker, melindungi dari penyakit jantung, memperbaiki kondisi radang sendi, memperlambat proses penuaan, mempercantik kulit dan meningkatkan potensi laki-laki. 

Kol mengandung asam amino glutamine yang berfungsi membantu pemulihan gangguan lambung termasuk mag. Jika mengonsumsi kol dalam bentuk jus, pastikan meminum habis dalam waktu 60 detik. Lebih dari 60 detik, asam amino tersebut akan mulai rusak. Selain itu, Anda bisa mencampur dengan jus wortel atau seledri untuk mencegah atau mengurangi gas dari kol. 

Seledri. Sayuran satu ini kaya akan magnesium, besi dan klorofil yang bagus untuk pembentukan darah. Seledri merupakan salah satu makanan yang paling kaya sodium organik. Komponen ini sangat cocok untuk Anda yang melakukan olahraga intensitas berat karena membantu mempertahankan cairan dan elektrolit tubuh. 

Jus seledri merupakan tonik yang sangat bagus untuk saraf. Untuk menghilangkan rasa pahit, ada baiknya dicampur dengan jus wortel atau apel. 

Di samping itu, jus seledri juga bagus untuk mengatasi sakit kepala. Dalam sistem pengobatan tradisional Yunani, jus ini digunakan untuk mengatasi sakit kepala. 

Jus seledri juga berfungsi membersihkan karbondioksida dari tubuh dan mendinginkan tubuh. Yang lebih menarik lagi, jus seledri juga dinyatakan bisa menekan keranjingan gula. 

Ketimun. Ketimun merupakan pendingin tubuh alami. Suhu di dalam ketimun 20 derajat lebih rendah dibandingkan suhu di luar saat hari panas. Saat memilih ketimun untuk jus, pastikan memilih ketimun yang tidak berlapis lilin. Dengan begitu, Anda bisa  turut menggunakan kulitnya. Tapi, pastikan mencuci bersih semua sayuran sebelum membuat jus. Jus ketimun dinyatakan mengandung 40 persen kalium, 10 persen sodium, 7 persen kalsium, 20 persen fosfor, dan 7 persen choline

Pilihlah ketimun yang berwarna hijau gelap dengan kulit yang bebas kerutan. Ketimun bisa disimpan di kulkas hingga enam hari. 

Bawang putih. Penelitian menunjukkan bahwa bawang putih berfungsi mengurangi tekanan darah, membantu mengatasi pengentalan darah, menurunkan kadar kolesterol jahat LDL, meningkatkan kekebalan tubuh dan mempercepat pemulihan pasien serangan jantung. 

Allicin
, sumber aroma khas bawang putih, berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Komponen ini membantu mengatasi penumpukan ragi di dalam tubuh. Di samping itu, bawang putih meningkatkan aliran enzim-enzim pencernaan dan mendorong proses detoksifikasi melalui kulit.  

Meskipun menimbulkan aroma yang kurang menyenangkan, bawang putih baik untuk kulit. Untuk mencegah bau berlebih, Anda cukup mengonsumsi sari dari satu siung bawang putih per hari. Untuk menambah rasa, Anda bisa mencampurnya dengan jus lain. (IK/OL-08) 
   Semoga artikel ini dapat membantu,lebih dan kurangnya saya ucapkan terima kasih sudah mampir



















Rabu, 09 Mei 2012

laporan anti bodi monoklonal

BAB  I
PENDAHULUAN


              Selama beberapa dasawarsa, sejumlah besar (mungkin sampai jutaan tahun) berbagai molekul  antibodi (imunoglobulin) telah diketahui eksistensinya, masing-masing bercirikan suatu tempat unik yang dapat mengikat diri pada determinan molekular yang spesifik. Banyak ahli imonologi mula-mula mengira bahwa semua antibodi itu terbuat dari rantai-rantai  polipeptida yang sama dan bahwa keunikan mereka itu disebabkan karena cara melipatnya rantai-rantai polipetida mereka yang identik dan yang baru disintesis  di sekitar antigennya. Teori ini ternyata salah. Tiap antibodi mempunyai rangkaian asam amino sendiri, dan tiap sel penghasil antibodi (sel plasma) hanya membuat suatu antibodi. Mula-mula ini merupakan penemuan yang menggelisahkan karena hal itu tampaknya  berarti bahwa harus ada gen tersendiri untuk setiap antibodi tertentu. Jika hal itu benar, maka mungkin sebagian besar, jika bukan bagian yang terbesar, dari DNA-DNA vertebrata harus diperuntukkan bagi pengkodean molekul-molekul antibodi. Tetapi spekulasi semacam itu tidak dapat diuji  sebelum ahli kimia protein menetapkan struktur dasar molekul antibodi. (Watson dkk : 1988)

A.   Pengertian Antibodi
            Antibodi dibuat oleh tubuh untuk merespon serangan bakteri atau virus. Antibodi ini melindungi tubuh terhadap serangan infeksi. Antibodi dihasilkan oleh-oleh sel limfosit dan dapat juga dihasilkan dengan menumbuhkan sel-sel ini dalam laboratorium.  Sel-sel tersebut kemungkinan menghasilkan sejumlah besar antibodi yang sejenis, ini dikenal sebagai antibodi monoklonal. Untuk memahami bagaimana hal ini bekerja, terlebih dahulu diperhatikan pengujian mekanisme alami dari tubuh untuk membentuk antibodi. (http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2274042-pembuatan-antibodi-monoklonal-dengan-hibridoma/)
B. Penetapan Struktur Dasar Molekul Antibodi
                   Pengertian yang pertama  mulai muncul  pada awal tahun 1960-an ketika diketahui bahwa unit dasar antibodi itu terdiri dari dua rantai ringan (L) dengan berat molekul 17.000 dan dua rantai berat yang identik (H) dengan berat molekul 35.000, yang terikat menjadi satu dengan pengikat disulfida. (Istilah “ringan” dan “berat” ini berkaitan dengan pembedaan dalam berat molekul rantainya). Setiap unit empat rantai tersebut mengandung dua tempat pengikat identik untuk antigen dengan suatu tempat yang sebagian terbentuk oleh asam-asam amino dari rantai ringan spesifik dan sebagian oleh asam-asam amino rantai berat spesifik. Jika bagan dasar antibodi telah ditentukan , maka rangkaian asam amino dari rantai-rantai komponen ringan dan berat dapat ditentukan  dengan menggunakan antibodi-antibodi  homogen yang dibuat oleh sel-sel myeloma spesifik. Myeloma adalah sel-sel (plasma) kanker yang memproduksi antibodi, dan pada tiap hewan semua sel tumor myeloma merupakan keturunan dari satu sel kanker asli. Ini menjelaskan mengapa semua molekul antibodi dari sembarang myeloma mempunyai rangkaian  asam amino yang sama. Baik rangkaian rantai ringan  maupun rantai berat bervariasi dari tipe antibodi yang satu dengan yang lainnya, tetapi dengan suatu cara yang seorang pun tidak dapat mermalkannya dari semula. Meskipun setiap rantai mempunyai rangkaian  yang unik, namun hampir semua kespesifikan itu terbatas pada ujung-ujung terminal amino (Daerah-daerah variabel atau atau daerah-daerah V). Setengah dari tiap rantai ringan dan tiga per empat dari tiap rantai berat mempunyai rangkaian-rangkaian  yang hampir identik (daerah tetap atau daerah-daerah C).
Gambar 1. Struktur suatu protein antibodi. Dua rantai ringan  (berwarna) dan dua rantai berat (putih) terikat menjadi satu oleh pengikat-pengikat disulfida. Rantai-rantai ringan dan berat itu masing-masing mengandung satu unit variabel (VL dan VH) pada ujung terminal amino mereka . Rantai ringannya juga mengandung satu unit tetap (CL); bagian tetap dari rantai berat mempunyai empat daerah (CH1, CH2, CH3, dan daerah engsel). (Watson : 1988)

C. Dimana Antibodi dibuat
                   Antibodi dibuat oleh sel-sel khusus yang dinamakan limfosit. Limfosit dibuat dalam kelenjar lim dan limpa. Kita akan  dapat merasakan bengkak pada daerah ketiak atau pada daerah leher bagian samping di bawah telinga jika Anda sedang sakit. Yang membengkak ini adalah kelenjar limfa yang bekerja keras menghasilkan antibodi untuk melawan penyakit yang kita alami. Kelenjar limfa dapat menghasilkan sepuluh ribu limfosit yang berbeda. Dan Masing-masing limfosit menghasilkan antibodi yang berbeda jika diperlukan oleh tubuh. (http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2274042-pembuatan-antibodi-monoklonal-dengan-hibridoma/)
D. Hibridoma dan Antibodi Monoklonal
                   Teknik Hibridoma adalah penggabungan dua sel dari organisme yang sama maupun berbeda sehingga menghasilkan sel tunggal berupa sel hibrid ( hibridoma ) yang memiliki kombinasi dari sifat kedua sel tersebut. Teknik hibridoma ini sangat penting untuk menghasilkan antibodi dan hormon dalam jumlah yang besar.
                   Salah satu hasil dari teknik hibridoma ini adalah antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diperoleh dari suatu sumber tunggal atau sel klona yang hanya mengenal satu jenis antigen. Pembentukan antibodi monoklonal dilakukan dengan menggunakan kelinci atau tikus.

















BAB  II
PEMBAHASAN

 Sebelum ditemukannya teknologi antibodi monoklonal, antibodi dahulunya diperoleh dengan cara konvensional yakni mengimunisasi hewan percobaan, mengambil darahnya dan mengisolasi antibodi dalam serum sehingga menghasilkan antibodi poliklonal. Apabila dibutuhkan antibodi dalam jumlah besar maka binatang percobaan yang dibutuhkan juga sangat besar jumlahnya. Selain itu bila diproduksi dalam jumlah besar antibodi poliklonal jumlah antibodi spesifik yang diproduksi juga sangat sedikit, sangat heterogen dan sangat sulit menghilangkan antibodi lain yang tidak diinginkan, Maka dari itu dilakukan serangkaian penelitian untuk membuat antibodi spesifik secara in vitro, sehingga dapat diproduksi antibodi spesifik dalam jumlah besar, dan tidak terkontaminasi dengan antibodi lainnya.
Tahun 1975, Georges KöhlerCésar Milstein, and Niels Kaj Jerne menemukan cara baru dalam membuat antibodi dengan mengimunisasi hewan percobaan, kemudian sel limfositnya difusikan dengan sel mieloma, sehingga sel hibrid dapat dibiakkan terus menerus. Antibodi yang homogen dan spesifik ini disebut antibodi monoklonal. Berkat temuan antibodi monoklonal  Georges KöhlerCésar Milstein, and  Niels Kaj Jerne  mendapatkan hadiah nobel di bidang fisiologi dan kedokteran pada tahun 1985. (Radji M. 2010)
              Teknologi antibodi monoklonal yaitu teknologi menggunakan sel-sel sistem imunitas yang membuat protein yang disebut antibodi. Sistem kekebalan kita tersusun dari sejumlah tipe sel yang bekerja sama untuk melokalisir dan menghancurkan substansi yang dapat memasuki tubuh kita. Tipa tipe sel mempunyai tugas khusus. Beberapa dari sel tersebut dapat membedakan dari sel tubuh sendiri (self) dan sel-sel asing (non self). Salah satu dari sel tersebut adalah sel limfosit B yang mampu menanggapi masuknya substansi asing dengan spesivitas yang luar biasa.
Dengan mengetahui cara kerja anti bodi kita dapat memanfaatkannya untuk :
Ø   keperluan deteksi, kuantitasi dan lokalisasi.
Ø  Pengukuran dengan pendeteksian dengan menggunakan Teknologi antibodi monoklonal relatif cepat, lebih akurat, dan lebih peka karena spesifitasnya tinggi.
Ø  Teknologi antibodi monoklonal saat ini digunakan untuk deteksi kehamilan, alat diagnosis berbgai penyakit infeksi dan deteksi sel-sel kanker.
Ø  Karena spesifitasnya yang tinggi maka Teknologi antibodi monoklonal dapat digunakan untuk membunuh sel kanker tanpa mempengaruhi sel-sel yang sehat.
Selain kegunaannya untuk mendiagnosis penyakit pada manusia, Teknologi antibodi monoklonal juga banyak dipakai untuk mendeteksi penyakit-penyakit pada tanaman dan hewan, kontaminasi pangan dan polutan lingkungan. (http://biologigonz.blogspot.com/2010/02/membuat-antibody-monoklonal.html
            Antibodi  untuk penyembuh kanker biasanya ditangani dengan sitotoksin yakni zat radioaktif pembunuh sel kanker. Senyawa campuran itu diinjeksikan ke dalam tubuh penderita, dan akan meluncur ke sel-sel kanker dan membunuhnya, tanpa merusak sel-sel lain yang normal Hal ini sangat dimungkinkan karena setiap zat antibodi akan mengenal antigennya. (Prawirohartono : 1997)               
A. Metode Pembuatan Antibodi Monoklonal
     1.  Imunisasi mencit
                   Antigen berupa protein atau polisakarida yang berasal dari bakteri virus, disuntikkan secara subkutan pada beberapa tempat atau secara intra peritoneal. Setelah 23 minggu disusul suntikan antigen secara intravena sekali atau beberapa kali suntikan. Mencit dengan tanggap kebal terbaik dipilih; 12 hari setelah suntikan terakhir, antibodi yang terbentuk pada mencit diperiksa dan diukur titer antibodinya, mencit dimatikan dan limpanya diambil secara aseptis, kemudian dibuat suspensi sel limpa untuk memisahkan sel B yang mengandung antibodi. Cara ini dianggap cukup baik dan banyak dipakai, walaupun kadangkala dipengaruhi oleh sifat antigen atau respon imun binatang yang berbeda-beda.
     Skema Pembuatannya
Gambar 2. Skema pembuatan antibodi monoklonal

                   Cara imunisasi lain yang juga sering dilakukan adalah imunisasi sekali suntik intralimpa (Single-shot intrasplenic immunization). Pada cara imunisasi konvensional antigen dipengaruhi bermacam-macam faktor. Bila disuntikan ke dalam darah sebagai besar akan dieliminasi secara alami, sedangkan melalui kulit akan tersaring oleh kelenjar limfe, makrofag, dan sel retikuler. Hanya sebagaian kecil antigen yang terlibat dalam proses respon imun. Oleh sebab itu untuk mencegah eliminasi antigen oleh tubuh dilakukan suntikan imunisasi langsung pada limpa dan ternyata hasilnya lebih baik dari cara konvesional.
2.    Fusi sel limpa kebal dan sel mieloma
            Pada kondisi biakan jaringan biasa, sel limpa yang membuat antibodi akan cepat mati, sedangkan sel mieloma dapat dibiakkan terus-menerus. Fusi sel dapat menciptakan sel hibrid yang terdiri dari gabungan sel limpa yang dapat membuat antibodi dan sel mieloma yang dapat dibiakkan terus menerus, sehingga sel hibrid dapat memproduksi antibodi secara terus-menerus, sehingga dalam jumlah yang tidak terbatas secara in vitro.
                   Fusi sel diawali dengan fusi membran plasma sehingga menghasilkan sel besar dengan dua atau lebih inti sel, yang berasal dari kedua induk sel yang berbeda jenis yang disebut heterokarion. Pada waktu tumbuh dan membelah diri terbentuk satu inti yang mengandung kromosom kedua induk yang disebut sel hibrid. Frekuensi fusi dipengaruhi beberapa faktor antara lain jenis medium; perbandingan jumlah sel limpa dengan sel mieloma; jenis sel mieloma yang digunakan; dan bahan yang mendorong timbulnya fusi (fusogen). Penambahan polietilen glikol (PEG) dan dimetilsulfoksida (DMSO) dapat menaikkan efisiensi fusi sel.
3.     Eliminasi sel induk yang tidak berfusi
                   Frekuensi terjadinya hibrid sel limpa-sel mieloma biasanya rendah, karena itu penting untuk mematikan sel yang tidak fusi yang jumlahnya lebih banyak agar sel hibrid dalam media selektif yang mengandunghypoxanthineaminopterin, dan tymidine (HAT).
                   Aminopterin menghambat jalur biosintesis purin dan pirimidin sehingga memaksa sel menggunakan salvage pathway. Seperti kita ketahui sel mieloma mempunyai kelainan untuk mensintesis nukleotida. Sel mieloma tidak mempunyai enzim timidin kinase atau hypoxanthine phosphonibosyltransferase, sehingga sel mieloma yang tidak berfusi akan mati karena tidak memiliki enzim tersebut, sedangkan sel hibrid karena mendapatkan enzim tersebut dan sel mamalia yang difusikan dapat menggunakan salvage pathway sehingga tetap hidup dan berkembang.
4.      Isolasi dan pemilihan klan hibridoma
                   Sel hibrid dikembangbiakan sedemikian rupa, sehingga tiap sel hibrid akan membentuk koloni homogen yang disebut hibridoma, tiap koloni kemudian dipelihara terpisah satu sama lain. Hibridoma yang tumbuh diharapkan mensekresikan antibodi ke dalam medium, sehingga antibodi yang terbentuk bisa diisolasi.
                        Umumnya penentuan antibodi yang diinginkan, dilakukan dengan cara enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) atau radioimmunoassay (RIA). Pemilihan klon hibridoma yang dapat menghasilkan antibodi; dan yang kedua adalah memilih sel hibridoma penghasil antibodi monoklonal yang potensial menghasilkan antibodi monoklonal yang tinggi dan stabil. (http://vivalapharmacy.blogspot.com/2011/03/teknologi-pembuatan-antibodi-monoklonal.html )
B. Metode Pembuatan Antibodi Monoklonal Secara In Vitro dan In Vivo
                   Antibodi monoklonal adalah antibodi yang spesifik terhadap satu macam epitop. Dalam pembuatan antibodi monoklonal dapat dilakukan dengan cara in vitro dan in vivo. Secara in vitro antibodi monoklonal diproduksi dengan cara hibridisasi sel myeloma dan sel limfa kemudian dibiakkan pada mikroplate 96 well dan diinkubasikan pada inkubator 37°C yang mengandung CO2 5%, sedang secara in vivo setelah hibridisasi diinokulasikan pada ruang peritoneal pada mencit, kemudian cairan asites diisolasi dan dimurnikan sebagai antibodi monoklonal. Agar dalam pengerjaan dan produksi antibodi monoklonal bebas dari kontaminasi dan hal yang tidak diinginkan, maka diperlukan prosedur yang komprehensif.
1.    Secara In Vitro
Thawing sel
             Sel myeloma yang disimpan pada nitrogen cair cepat dicairkan pada water bath dengan temperatur 37°C. Lakukan dengan cara menuangkan sel; 1 ml ke dalam tabung yang mengandung 10 ml medium MPM  yang telah dipanaskan 37°C. Kemudian disentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan 450 g atau 1750 rpm, stufe 3. Selanjutnya supernatan dibuang dan pelet diresuspensikan dalam 7 ml MPM yang dipanaskan 37°C, setelah itu dimasukkan flash dan diinkubasikan selama 6 jam. Kemudian dilihat di bawah mikroskop inverted dan bila perlu dilakukan perhitungan sel, jika selnya lebih dari yang diperlukan maka sel tersebut harus diencerkan.
Pembekuan  sel
             Sel yang akan dibekukan sebaiknya sel yang berumur 2-3 hari agar setelah di thawing sel yang hidup lebih banyak. Sel yang akan dibekukan pada setiap tube/cryotube mengandung sel kurang lebih 2 x 10. Caranya yaitu sel yang ditanam pada flash 45 ml dipanen dan dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 450 g selama menit. Supernatan yang positif klon Mab disimpan dan pelet diresuspensikan dengan medium pembeku kemudian didinginkan secara pelan-pelan dengan meletakkan dalam es selama 40 menit. Kemudian tambahkan medium pembeku 1 ml yang telah didinginkan 4°C. Sel ditaruh pada styrophor dan disimpan pada frezer 70°C selama 3 hari. Akhirnya sel disimpan di Nitrogen cair.
Kloning
             Hitunglah sel dari mikroplate atau flash yang kecil kemudian diencerkan 500 sel per ml (4 ml per 96 well). Pada baris B-H diencerkan lagi sampai 7. Pada pengenceran kei di uji. dua ditambahkan( 2 ml + 2 ml medium ). Setiap pengenceran A-H  stiap lubang (well) diberi 0,1 ml (1,2 ml). Sehingga setiap baris  A 12 x 50  sel/well, untuk baris B 12 x 25 sel/well, dan seterusnya sehingga pada baris H 12 X 0,35 sel/well. Pengenceran  dengan medium HT atau MPM/pyruvat ditambah makrofag. Setelah 7 hari diuji. Klon yang positif pada pengenceran yang tinggi dipilih dengan cara mengambil 2 ml kemudian dibekukan dan 1-2  kali dilakukan rekloning.
Fusi
1.       Empat minggu sebelum fusi pasase 3 sel myeloma di kultur, kemudian diseleksi dengah antidote HGPRT-defisiensi (dalam 6-Thioguanin atau 8 Azaguanin (mg/ml) 1 : 100 selama 1-2 minggu.
2.       Sepuluh hari sebelum difusikan sel dicari eksponensial pertumbuahn sel (yang bagus viabilitasnya harus 90%;
3.       Saat fusi sel dihitung dan diperlukan 10;
4.       Mencit yang telah diimunisasi dilakukan booster sehari sebelum fusi, sel peritoneal 5 x 104/ml dilapiskan pada well 96 sebanyak 50 µl/well (sel peritoneal dipanen sebanyak 3 ml);
5.       Pada saat fusi, mencit dibunuh dan limfa diambil secara aseptis;
6.       Limfa dimasukkan ke dalam medium yang bebas serum sebanyak 10 ml yang telah dipanaskan 37°C dan kemudian dengan glass objek disayat-sayat kemudian ditekan dengan pinset;
7.       Sisa jaringan kemudian dimasukkan pada tabung 50 ml dan letakkan pada inkubator selama 5 menit;
8.       Supernatan diambil dan kemudian disentrifugasi selama 5 menit pada level 3-4 dengan kecepatan 600 g atau 2000 rpm;
9.       Pelet kemudian diresuspensikan dengan 0.83% NH4CL dan eritrosit dilisiskan pada temperatur ruangan selama 2 menit;
10.    Suspensi 9 ml medium dengan FCS dihangatkan dalam tabung 12 ml dan sel myeloma pindahkan ke tabung 50 ml;
11.    Kedua sel disentrifugasi dengan kecepatan 450 g atau 1750 rpm stufe 3 sampai 8 menit;
12.    Kedua sel dipisahkan dengan cara mencuci menggunakan medium tanpa serum. Myeloma mengumpul kemudian dipindah sebanyak 12 ml ke dalam tabung dan sentrifugasi pada stufe 3 selama 5 menit.
13.    Sel dihitung dan selanjutnya campur bersama dengan perbandingan 3 : 1, sel limfa : myeloma kemudian disentrifugasi pada stufe 3;
14.    Supernatan dipisahkan dengan sisa organ sedimen harus lembab, kemudian diresuspensikan tanpa ada gumpalan:
15.    Pada saat fusi semua medium dihangatkan, 44,4% 1 ml PEG dipanaskan selama satu menit setelah autoklaf dan sebelum ditambah medium tanpa serum 1, 5 ml selama 1 menit, 3 ml medium tanpa serum selama 2 menit dan sekali dicampur, 6 ml MPM selama 2 menit dengan sekali dicampur;
16.    Sel disentrifugasi dengan kecepatan 150 g atau 1000 rpm selama 1-2 menit;
17.    Pelet diberi HAT dan diinkubasikan pada inkubator selama 30 menit, lakukan dengan pelan-pelan;
18.    Masukkan ke dalam plate klonisasi 9 x 105/well sekitar 2 tetes, 6 plate 96 well 2 x 105/well sampai kurang lebih 10 µl untuk 12 plate;
19.    Setiap 3-4 hari di makan 3 x HAT dan HT dan setelah itu setiap 10 hari diuji . Untuk lebih jelas lihat gambar  3.

Gambar 3. Cara hibridisasi sel limfosit limpha mencit yang telah diimunisasi dengan sel myeloma mencit.

Kultur Sel
             Persyaratan kultur sel yang perlu diperhatikan antara lain desinfektan untuk alat, lantai, gas dalam inkubator, antibiotik, dan bahan-bahan pel lainnya karen atoksik terhadap sel terutama akan merusak metabolisme sel dan sitogenitas sel. Oleh karena itu harus ada aturan standar tersendiri terhadap teknisi dan kelompok kerja di laboratorium. Selain itu juga harus dihindari adanya gas di dalam laboratorium. Bahan-bahan untuk pencuci gelas dan alat yang sudah teruji antara lain 7X ant 7X-o-matic, RBS-vitro, Deconex 20 NS, Decon 90. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah cryotube untuk membekukan sel boleh digunakan hanya satu kali, di samping Itu juga material dan alat-alat harus diberi tanda khusus untuk kultur sel dan tdak diperbolehkan digunakan yang lainnya.
             Penyimpanan  bahan-bahan plastik harus diberi sirkulasi udara yang baik sehingga tidak terjadi kerusakan bahan tersebut, karena banyak mengandung formaldehid yang sangak toksik terhadap sel. Oleh karena itu palstik yang lama tidak dapat dipergunakan lagi. Kualitas air pada laboratorium tissue culture harus disediakan beberapa tingkatan kualitas air terutama untuk fusi sel seperti proses pertukaran ion sangat penting misalnya osmose diperlukan kualitas air tingkat II atau aqua bidest. Selain itu juga diperlukan dimineralisasi dengan cara pertukaran ion yaitu kation dan anion yang nantinya digunakan selain untuk pengenceran atau membuat larutan juga untuk pencucian alat. Aqua destilata yang diproses dengan menggunakan spiral pemanas dari besi atau metal tidak bisa digunakan, sebaiknya dari glas kuarsa karena tidak merusak proses ionisasi. Oleh karena itu kualitas air merupakan syarat utama dalam mengerjakan kultur sel.
Medium
Setelah selesai membeli medium, masalah yang timbul biasanya adalah kualitas air. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, bahwa medium yang masih di pak dan diletakkan  dalam lemari pendingin  4°C tidak boleh disimpan lebih dari 6 bulan, sedang medium yang terbuka lebih tidak tahan lama. Medium sejenis ini tidak dapat digunakan untuk hibridoma sel .
             Penyimpanan medium yang tidak mengandung serum paling lama 6 bulan, jika terlalu lama maka kualitasnya berkurang. Medium tidak dapat dibekukan karena serum dapat menghindari terjadinya presipitasi calsium. Medium yang mengandung  L-glutamin tidak stabil karena sifat l-glutamin adalah labil, sehingga bila ditambahkan pada medium , maka medium jika disimpan pada suhu  4°C  tahan sampai 6 bulan, sedang pada temperatur 37°C bertahan sampai 1 minggu. Tetapi jika serum akan menguraikan enzyme. Oleh karena itu tidak baik jika medium mengandung L-glutamin. Sebaiknya L-glutamin diencerkan 10 kai dan disimpan pada -70°C..
             Medium RPMI-1640 sering digunakan untuk mengklon, tetapi bahan yang baik untuk kloning adalah campuran RPMI-1640 dengan 20° medium 199 karena medium campuran berpengaruh terhadap nukleotide, di mana memblok azaserin dan aminopterin.    
Gambar 4. Sel hibridisasi antara sel myeloma dari mencit dan sel limfosit mencit yang telah         diimunisasi.


             Pada gambar 4. Sel myeloma dari mencit dan sel limfosit mencit telah diimunisasi , selanjutnya difusikan dengan menggunakan Poly Ethylen Glycol (PEG). Agar sel yang berfusi dapat memproduksi imunoglobulin dan dapat hidup tanpa adanya bahan tanpa adanya toksik, maka ditambahkan medium HAT (Hypoxanthin, Aminopterin dan Thymidin). Medium ini digunakan untuk seleksi sel yang berfusi akan hidup terus. Sedang sel yang tidak berfusi akan mati. Kemudian dilakukan uji imunologi untuk menskrining sel hibrid yang dapat menghasilkan imunoglobulin dilakukan klon dan dipindahkan ke tempat lainnya untuk kultur. Akhirnya dilakukan uji imunologi kembali. Jika sel hibrid tidak dapat memproduksi imunoglobulin atau negatif, maka sel hibrid dibuang dan sel hibrid yang positif dilanjutkan untuk dikultur.
Serum
            Dalam penggunaan serum sebagai salah satu bahan penumbuh sel sebelum dipakai harus dites terlebih dahulu dengan berbagai konsentrasi misalnya 10%, 5%, atau 2%. Hal ini sebaiknya juga dites pada hibridoma yang sudah establish.
            Ada beberapa serum charge  seperti 55% charge foetal calf serum, 59% charge newborn calf serum, 42 charge calf serum, 73% charge bovine serum. Serum-serum ini sudah banyak dipasarkan. Uji untuk serum dapat dilakukan dengan sel  hibrid yang establish dan dilakukan pengamatan selama 1-3 minggu setelah fusi atau menggunakan sel myeloma dengan phase pertumbuhan dengan cara memasukkan sel sebanyak 2000 sel per well pada mikroplate kemudian setelah satu minggu diuji dengan mikroskop fase kontras atau dilihat kadar protein dan jumlah sel yang tumbuh. Jika jumlah selnya meningkat maka serum tersebut dapat digunakan untuk hibridoma.
Makrofag (Makrofag Feeder Cells)
            Makrofag dalam produksi antibodi monokoonal diperlukan untuk memfagosit sel mati pada saat fusi sel limfosit dan sel myeloma. Sel ini dikultur pada mikroplate 96 lubang (well) atau mikroplate  24 lubang yang dapat ditumbuhkan sampai 4 minggu sebelum di campur dengan sel hasil fusi. Sehingga siap untuk memfagosit sel-sel mati yang tidak   fusi.
            Makrofag dapat dikmoleksi dari limpa mencit yang sama, tetapi disarankan menggunakan mencit yang berbeda karena akan mempengaruhi faktor pertumbuhan. Mencit yang sering digunakan untuk mengkoleksi makrofag sebagai feeder cells adalah jenis Balb/c dan NMRI. Minimal mencit yang akan diambil makrofagnya 2 ekor. Tetapi jika makrofag dikoleksi dari mencit yang telah diimunisasi hanya diperlukan 1 mencit.
            Makrofag yang paling cocok untuk feeder cells adalah makrofag hasil kultur monosit berasal dari darah perifer manusia yang distimulasi  dengan AB-serum.
Bahan dan Reagensia
            Mencit strain balb/c atau NMRI atau mencit lainnya, tabung conical 50 ml, tabung sentrifuse 15 ml, medium RPMI 1640 (80/20): 80% RPMI 1640, 20% medium 199, garam Earles, PBS tanpa Ca dan Mg.
Prosedur
1.    Mencit dimatikan dengan cara dislokasi bagian cervikal atau di beri kloroform.
2.    Bagian yang akan difiksasi dibuat aseptis dengan ethanol 80%, kemudian kulit perut dibuka.
3.    Masukkan 1-2 ml PBS dengan pipet pasteur dan lakukanlah pipetisasi keluar masuk dengan pelan-pelan (sedot dan tekan).
4.    Cairan diambil dan dimasukkan kedalam tabung  conical 15 ml yang diletakkan  di atas es agar makrofage tidak menempel pada dinding tabung.
5.    Hitunglah makrofag dengan menggunakan haemositometer.
6.    Lakukan sentrifugasi selama   10 menit dengan kecepatan 500 g.
7.    Masukkan sedimentasi (pellet) kedalam tabung conical 50 ml yang mengandung medium HAT sebagai medium seleksi sel hibridoma. Jumlah makrofag setiap lubang (well) 104/50 µl atau 1,5 x 104/ lubang pada mikroplate 24 well.
Polyethylenglycol (PEG)
            Dalam penggunaan PEG untuk fusi yang perlu diperhatrikan adalah berat molekul bahan yang akan difusikan. Berat molekul yang sesuai  dengan menggunakan PEG adalah sekitar 1000-6000. Dalam penyimpanan PEG yang efektif tidak boleh lebih dari 2 bulan.
HAT
            Bahan kombinasi ini sering digunakan untuk seleksi hibridoma. Aminopterin dalam HAT sangat sensitif terhadap sinar dan juga pada -20°C kurang stabil. Bahan ini tidak boleh disimpan lebih dari 6 bulan, begitu juga seleksi HAT melalui hypoxantin-Azasern-Selektion (HAZ).
Pemanenan Imunoglobulin Hasil Hibridisasi
            Setelah sel hibrid hasil fusi dikultur dan dites titer antibodinya dengan cara ELISA, jika titer antibodi yang didapat tinggi maka sebaiknya dilakukan pemanenan dengan cara mengambil cairan supernatan dari biakan sel kemudian dilakukan identifikasi imunoglobulin yang dieskpresikan oleh sel hibrid. Selanjutnya dilakukan purifikasi. Model pemurnian yang paling efektif adalah dengan penambahan amonium persulfat. Setelah itu hasil purifikasi dimasukkan cryo tube untuk disimpan pada -80°C sampai digunakan atau langsung digunakan untuk penelitian selanjutnya.
2.    Secara In Vivo
Produksi Antibodi Monoklonal pada Mencit
             Dalam memproduksi antibodi monoklonal pada mencit banyak faktor yang harus diketahui, karena produksi antibodi monoklonal dengan cara ini memerlukan situasi  yang betul-betul memenuhi persyaratan terutama pertumbuhan tumor untuk membentuk asites di dalam ruang peritoneum mencit. Semakin cepat dan banyak asites yang terbentuk semakin tinggi produktivitasnya antibodi monoklonal. Oleh karena itu dalam kapital selanjutnya akan membahas dasar produksi antibodi monoklonal pada mencit dan faktor-faktor apa yang harus diperhatikan, standar metode yang digunakan. Selain itu juga faktor penandaan (priming).
Dasar produksi antibodi monoklonal pada mencit
             Terdapat persyaratan khusus untuk memproduksi antibodi poliklonal dalam ruang peritoneum mencit, sehingga dapat memproduksi antibodi monoklonal. Terutama perkembangan tumor sangat perlu diperhatikan. Hal ini semenjak tahun 1962 oleh Potter dan
Gambar 5. Skema standar Metode Produksi Antibodi Monoklonal pada mencit

Boyce sudah membuat dan mengamati pada mencit setelah diinjeksi dengan mineral oil dan mineral adjuvant terbentuk plasmacytoma. Dari efek inilah sehingga dapat menstimulasi hibridoma sel untu dapat proliferasi di dalam ruang peritoneum mencit. Adanya reaksi ini mengakibatkan berdatangan sel adheren seperti granulosit, makrofage ke dalam ruang peritoneum. Sehingga dengan adanya pertumbuhan sel hibridoma terlihat terjadi keradangan pada perut/ruang peritoneum mencit. Hal ini menandakan immunoglobulin diproduksi berupa asites dalam perut mencit.
             Untuk dapat mengkoleksi  cairan asites dari mencit dilakukan dengan cara melakukan punksi. Cairan tersebut mengandung konsentrasi antibodi yang tinggi dibandingkan dengan antibodi yang diproduksi dengan cara kultur sel. Kandungan antibodi rata-rata yang didapat sekitar 1-20 mg/ml atau sekitart 100 sampai 1000 kali antibodi monoklonal yang diproduksi di kultur sel.
             Kerugian dalam memproduksi antibodi monoklonal dengan mencit adalah pertama kebanyakan setelah asites terbentuk hewan mudah mati, dan kedua kerugiannya adalah kebanyakan antibodi monoklonal yang diproduksi dan di dapat sekitar 5-20% mengandung antibodi bukan antibodi monoklonal. Problem lainnya yang muncul adalah pada saat menginjeksikan sel hibridoma ke dalam  rongga peritoneum terkadang terkontaminasi dengan bakteri, jamur dan mykoplasma.
Pemilihan dan Penanganan Hewan Coba
             Dalam pemilihan hewan coba biasanya dikaitkan dengan asal sel myeloma dan sel limfa yang akan digunakan. Sebagai contoh, jika sel linie myeloma X63.Ag8.653 berasal dari mencit balb/c dan kemudian difusikan dengan sel limfa dari mencit balb/c pula, maka hewan coba yang paling baik untuk menumbuhkan sel tersebut adalah menggunakan mencit balb/c. Meskipun dapat juga menggunakan generasi hibrid F1 dari balb/c dengan strain lainnya.
             Jenis hewan lainnya yang dapat digunakan adalah heterolog hibridoma mencit dan juga pada tikus (rat), tetapi harus dibuat imunodefisiensi terlebih dahulu dengan cara pengambilan thymus (Thymus apalstich), penyinaran sinar ultraviolet, dan atau dengan cara
pemberian bahan imunosupresi atau SCID-maus (Severe Combined Immunodefiesincy). Penggunaan hewan yang lebih besar akan dapat menghasilkan atau memproduksi antibodi monoklonal yang lebih banyak, misal balb/c yang disilangkan dengan swiss Webster akan dapat memproduksi lebih banyak dibandingkan dengan blab/c jantan menurut pengalaman beberapa peneliti dapat memproduksi antibodi lebih banyak dibanding dengan betina, hal ini karena pada betina lebih cepat terjadi pengotoran lewat urine dan kotorannya, sehingga terjadi stress dan akhirnya asites yang dihasilkan menjadi sedikit. Sedang pengaruh umur dari hewan tidak begitu nyata, misalnya menggunakan mencit yang berumur 10-12 minggu tidak berpengaruh.
             Produksi antibodi melalui asites memerlukan waktu sekitar 4-6 minggu untuk satu kali siklus antara priming dan pengambilan asites. Oleh karena itu paling baik dalam memproduksi asites disarankan sekali siklus menggunakan 5 hewan coba agar lebih ekonomis.
Pemilihan Material Priming
             Pembuatan asites sangat tergantung tentang pengalaman dalam penanganan sebelum sel hibridoma diinjeksikan ke dalam rongga peritoneum. Hal ini karena jika kurang optimal, maka asites yang diproduksi tidak akan banyak.
             Bahan yang sering digunakan sebagai priming antara lainmineral oil pristan (2,6,10,14-tetramethyl pentadecan) dan sebuah rantai alkan. Serta ajuvant freund incompletes. Agen lainnya yang juga dapat menstimulir makrofage yaitu thioglykolaat dan proteose-pepton. Dari banyak bahan yang digunakan untuk priming ini dan hasilnya yang paling baik adalah selain Incompleet Freund’s Adjuvant (IFA).
             Jika setelah sekali injeksi sel hibridoma ke dalam ruang peritoneum tidak muncul adanya tumor, maka dapat diulangi sekali lagisetelah 2-5 hari atau dapat dilakukan ulangan berkali-kali. Jadi efek dari priming adalah mempercepat pertumbuhan sel hibridoma dalam rongga peritoneum mencit.
Waktu dan Volume Priming
             Pada mencit yang diberi priming pristan 10-20 hari sebelum diinjeksi dengan sel hibridoma mempunyai kecenderungan pertumb uhan sel hibridoma lebih cepat dibandingkan dengan pemberian priming 1 hari sebelum diinjeksi, dan asites yang dibentukotomatis lebih cepat. Dari beberapa waktu pemberian priming di atas yang paling baik untuk produksi asistes dan dapat menghasilkan antibodi yang tinggi adalah pemberian priming 10 hari sebelum diinjeksi sel hibridoma.
             Pemberian priming dengan incomplete adjuvant dapat  membentuk plasmacytoma seperti dengan pristan, tetapi waktu yang baik pemberiannya  adalah 3 hari sebelum diinjeksi dengan sel hibbridoma. Tetapi kedua bahan priming di atas dalam stimulasi pembentukan asites pristan lebih lama dibandingkan dengan IFA.
             Jumlah dosis maksimal pemberian ppristan pada mencit adalah o,5 ml/mencit. Lebih dari 1-2 ml dapat menurunkan produksi secara drastis. Jadi 0,3 ml/mencit paling baik pada mencit dengan berat badan 20 gram dan 0,5 ml untuk hewan coba yang lebih berat.
Aplikasi sel Hibridoma
             Sel hibridoma dimasukkan ke dalam rongga peritoneum melalui penyuntikan intraperitoneal sekitaar 105 sel. Selain itu juga dapat dilakukan melalui rute intravena retrobulbar atau intralimfa (intraspleen). Jika penyuntikan dilakukan langsung pada limfa maka sel yang perlu dipersiapkan adalah 104 sel. Dengan jumlah sel ini sudah mampu untuk berkembang di dalam mesenterium dari rongga perut. Tetapi jika menginginkan produksi antibodi monoklonal yang cepat dan banyak maka jumlah sel minimal 6-32 x 105 sel/mencit. Tetapi kerugiannya adalah biasanya hewan cepat mati, jika dibandingkan dengan pemberian sel yang lebih sedikit, dan juga produksi immunoglobulinnya sedikit.
Pengambilan Asites
             Asites dapat diambil jika sudah terlihat adanya produksi asites. Asites dapat diambil berkali-kali, sehingga didapatkan volume aistes lebih banyak. Kerugiannya jika diambil lebih dari sekali terkadang mencit mati. Pengambilan dengan cara punksi ini maksimal pengambilan aistes 4-6 kali. Agar dalam pengambilan mendapatkan cairan asites  yang banyak maka perlu diinjeksi terlebih dahulu dengan 5 ml cairan fisiologis larutan kochsal sebelum pengambilan.
Penggunaan sel asites
             Sel hibridoma  yang dipanen dari rongga perut mencit adalah merupakan sel yang sudah adaptasi di dalam rongga perut oleh karena itu setelah dilakukan pemanenan asites, sel dapat diinjeksikan kembali pada mencit  baru tanpa didahului dengan pemberian priming. Sel ini dapat disimpan pada -80°C dan tahan sampai 6 bulan.
Produksi human-antibodi monoklonal pada rongga perut mencit
             Produksi human-antibodi monoklonal pada mencit sulit dan terdapat beberapa kendala karena sel hibridoma pada mencit terjadi xenotransplantat dan terjadi reaksi yang berlebihan. Oleh karena itu  hewan coba perlu dilakukan pelemahan sisten imun dengan cara penyinaran ultra violet. Produksi asites human-antibodi monoklonal relatif lebih sedikit dibandingkan dengan sel hibridoma normal pada mencit. Oleh karena itu diperlukan beberapa tahapan. Pertama ditumbuhkan pada mencit melalui penyuntikan sel tumor secara in vitro. Akhirnya sel diinjeksikan kembali untuk produksi asites.
Kerugian produksi human-antibodi monoklonal adalah.
1.    Berlangsung lama dan harus aktif untuk adaptasikan sel dalam perut mencit dan selanjutnya dilakukan kokultivasi  secara in vitro selama 3 bulan.
2.    Sulit mendapat hewan SPF dan juga harganya mahal;
3.    Alat untuk penyinaran kadang sulit untuk mendapatkannya;
4.    Pembentukan tumor  pada setiap hewan sekitar 2-5 ml/mencit dengan konsentrasi antibodi maksimal mg IgG/ml.

C. Dasar Hibridisasi Dan Produksi Antibodi Monoklonal
     Sifat dan produksi sel myeloma dan sel linie tumor
              Sebagai bahan dasar dalam pembuatan antibodi monoklonal terdapat empat persyaratan yang harus dipenuhi antara lain :
1.    Sel tidak dapat mensistesi antibodi kompler atau imunoglobulin L-chain dan H-chain sendiri;
2.    Sel tidak boleh mempunyai enzim defek, supaya setelah seleksi fusi dapat dieliminir;
3.    Sel harus mempunyai sifat fusi yang yang baik, sehingga didapatkan sel hibridoma yang banyak dan baik;
4.    Sel harus dapat membawa sifat molekul dalam hibridoma  untuk menginduksi sintesis antibodi monoklonal yang tinggi.
Tanpa sekresi imunoglobulin
              Sel myeloma atau sel tumor mempunyai sifat fisik yang tidak dapat memproduksi atau mensintesis sendiri antibodi secara utuh atau rantai antibodi, tetapi dapat memproduksi setelah hibridisasi. Hal ini karena  terdapat sisternal kombinasi kompartment dari kromosom 2, 14, 22 (manusia) atau 6, 12, dan 16 pada mencit dari sel asal, selain itu juga sel myeloma tidak dapat mensintesis antiboodi, sehingga dapat menseleksi untuk memproduksi antibodi monoklonal yang intak dengan kromosom  sel B saja. Terdapat beberapa sel myeloma etablish seperti maus myeloma yang berkode antara lain P3 x 63Ag8.653, SP2/O-Ag14 dan P3-NS1/1-Ag4-1 tetapi kadang terjadi mutan. Sedang P3-NS-1/1-Ag4-1 secara intraseluler bebas rantai kappa, tetapi tidak dapat berdifusi dengan baik.
Defek enzim untuk seleksi
              Setelah dilakukan fusi terdapat empat kemungkinan populasi sel yang berbeda yanitu tidak terjadi fusi di antara sel myeloma, tidak terjadi fusi di antara sel limfosit, tidak terjadi hibridoma yang salah dan terjadi hibridoma yang benar. Apa yang terjadi setelah fusi terhadap keempat macam sel fusi tersebut? Sel yang tidak fusi dengan sel B akan mati beberapa hari setelah fusi atau paling lama 3 minggu. Sel yang salah fusi dengan dua sel B dan satu sel myeloma, dua sel myeloma dengan satu sel B, keduanya sel B, sel B dan sel T tidak mempunyai kemampuan hidup dan akan mati dalam beberapa hari. Sel hibridoma yang sempurna fusi akan tumbuh terus dan paling tidak dalam hibridisasi  paling sedikit akan didapatkan  sel hibridoma sekita 10-4 meskipun masih ada sel yang tidak fusi seperti sel myeloma  yang dapat tumbuh cepat dan dapat proliferasi, maka diperlukan trik untuk menyiasati sel tersebit agar cepat tereliminer atau mati maka perlu ditambahkan medium Thymidin Kinase (TK) agar terjadi defek enzim, atau ditambahkan Hypoxanthin Guanidin Phosphoribosyl Tranferase (HGPRT). Dengan adanya defek enzyme, maka sel akan mati, sedang sel hibridoma (sel fusi) tidak akan mati.
Sifat fusi yang baik
              Sifat fusi yang baik adalah dapat mengahsilkan sel hibridoma  yang banyak. Jika sel linie tumor sesuai dengan kriteria sebagai persyaratan membuat hibridoma maka  akan mendapatkan sel partner yang baik, dan otomatis akan menghasilkan sel hibridoma yang baik pula. Selain itu juga tidak ditemukan sel adanya sel mutasi pada tingkat subklone.
Kualitas Hibridoma
              Hibridoma dikatakan baik jika daya sintesis antibodi monoklonal tinggi. Pernyataan ini sangat penting jika menginginkan produksi antiboodi monoklonal dalam kapasitas yang cukup banyak.  Apakah ingin memproduksi atau mendapatkan kultur hibridoma 10 µg/ml atau 50 µg/ml. Sampai saat ini sel myeloma dapat menginduksi sintesis antibodi monoklonal. Oleh karena itu sekarang teknik ini berkembang pesat untuk memproduksi antibodi monoklonal anti human. Selain itu juga tidak banyak ditemukan mutagenesis pada subklone. Dengan demikian melalui teknologi gen teknik kemungkinan yang akan datang didapatkan sel yang baik, sehingga menghasilkan fusi yang baik. (Rantam : 2003)
D. Cara Kerja Antibodi Monoklonal
                   Tidak seperti kemoterapi dan radioterapi, yang bekerja secara kurang spesifik, tujuan pengobatan antibodi monoklonal adalah untuk menghancurkan sel-sel limfoma non Hodgkin secara khusus dan tidak mengganggu jenis-jenis sel lainnya. Semua sel memiliki penanda protein pada permukaannya, yang dikenal sebagai antigen. Antibodi monoklonal dirancang di laboratorium untuk secara spesifik mengenali penanda protein tertentu di permukaan sel kanker. Antibodi monoklonal kemudian berikatan dengan protein ini. Hal ini memicu sel untuk menghancurkan diri sendiri atau memberi tanda pada siinduk kekebalan tubuh untuk menyerang dan membunuh sel kanker.
        Sebagai contoh, rituximab, antibodi monoklonal yang dipakai dalam pengobatan limfoma non Hodgkin, mengenali penanda protein CD20. CD20 ditemukan di permukaan Sel B abnormal yang ditemukan pada jenis-jenis limfoma non Hodgkin yang paling umum.
Proses kerja
       Saat rituximab berikatan dengan CD20 di permukaan suatu sel-B, sel mungkin dihancurkan langsung, tetapi pertahanan alami tubuh juga disiagakan. Rituximab secara efektif menyerang sel limfoma agar dapat dihancurkan siinduk kekebalan tubuh dan membunuh sel-sel kanker. CD20 juga ditemukan di permukaan sel-B normal, salah satu jenis sel darah putih yang beredar di tubuh. Ini berarti mungkin sel-B normal ini juga dihancurkan saat rituximab digunakan. Akan tetapi, sel induk dalam sumsum tulang yang berkembang menjadi sel-B tidak memiliki CD20 pada permukaannya. Oleh karena itu sel induk tidak dihancurkan oleh rituximab dan dapat terus menyediakan sel-B sehat untuk tubuh. Meskipun jumlah sel-B normal yang matang berkurang untuk sementara karena pengobatan, mereka akan kembali ke kadar semula setelah pengobatan.
E. Bagaimana Antibodi Monoklonal Menghajar Sel Kanker
                   Antibodi Monoklonal drug adalah sebuah obat inovasi baru dalam usaha manusia melawan kanker. Meskipun efektifitas dan sepesifisitas obat ini terhadap kanker tertentu telah teruji dan membuahkan hasil, namun cara penggunaan obat ini agar memberikan hasil yang terbaik sampai saat ini belumlah diketahui secara pasti.Tahapannya :
1.  Membuat sel kanker lebih dikenali oleh sisten Immun
     Sistem immun akan aktif jika terdapat musuh (antigen) dalam tubuh. Sekali sisten immun mengenali adanya musuh tubuh, maka ia akan memanggil teman-temannya untuk melawan musuh ini. Tapi tidak selamanya sistem antibodi monoklonal mengenali sel kanker. Rituximab bekerja agar sistem immun lebih kenal dengan sel kanker sehingga sistem pertahanan tubuh bisa bekerja lebih efektif dalam rangka menghajar sel kanker.
2. Menghambat Faktor-faktor Pertumbuhan Sel Kanker
                   Jika sebuah zat kimia yang disebut sebagai Growth Factor menempel pada sel kanker, maka pertumbuhan sel kanker yang ditempeli akan meningkat drastis, kalo pertumbuhan sel  kankernya tambah banyak secara otomatis kankernya akan bertambah ganas. Didasarkan fakta inilah, obat-obatan Antibodi Monoklonal seperti cetuximab bekerja menghambat ikatan antara growht factor dengan reseptor pada sel.
3. Menghantarkan Radiasi ke Sel Kanker
                   Kombinasi obat antibodi monoklonal dengan partikel radioaktif, kita bisa menghantarkan radiasi langsung tepat sasaran pada sel kanker. Hal ini digunakan untuk memastikan radiasi tersebut tidak merusak sel yang sehat. Dengan adanya obat yang penggunaannya  masih dalam pengawasan FDA ini, maka efektifitas radioterapi pada pasien kanker bisa lebih ditingkatkan.
F. Dosis dan Pemberian Antibodi
       Dosis dan pemberian bervariasi untuk setiap antibodi yang diberikan.  Sebagai contoh, rituximab, antibodi monoklonal yang umum digunakan dalam pengobatan NHL diberikan intravena, melalui jarum yang masuk ke dalam pembuluh darah , biasanya di lengan. Rituximab diberikan sebagai ‘tetesan’ yang berarti obat dimasukkan dulu ke dalam kantong infus, kemudian cairan menetes perlahan ke dalam pembuluh darah dengan mengandalkan kekuatan gravitasi.
       Jika antibodi monoklonal digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi, rituximab biasanya diberikan sesaat sebelum kemoterapi pada awal setiap siklus pengobatan. Sebelum tetesan infus diberikan, obat lain untuk mencegah beberapa efek samping antibodi monoklonal diberikan – contohnya parasetamol untuk mengurangi demam dan anti-histamin untuk mengurangi kemungkinan reaksi alergi. Meski demikian, efek samping antibodi monoklonal umumnya ringan dan sementara serta dapat diatasi dengan mudah. Jika terjadi efek samping saat obat diberikan, tetesan infus dapat diperlambat atau bahkan dihentikan hingga efek samping berakhir.
       Untuk pengobatan pertama, pasien menginap di rumah sakit atau sementara tinggal di sana sebelum pulang ke rumah.Llanjutan biasanya lebih cepat dan efek sampingnya lebih sedikit. Kebanyakan orang dapat mendapat pengobatan lanjutan ini sebagai rawat-jalan dan pulang ke rumah pada hari itu juga.
G. Efek Samping Antibodi Monoklonal
Seperti semua obat, antibodi monoklonal dapat menyebabkan efek samping. Contohnya untuk rituximab, efek samping umumnya ringan dan bersifat sementara, hanya berlangsung selama pengobatan atau beberapa jam setelahnya. Efek samping terjadi paling sering selama masa pengobatan mingguan pertama, dan biasanya berkurang dengan dosis selanjutnya. Hal ini disebabkan lebih banyak sel limfoma selama pengobatan pertama yang harus diserang oleh antibodi monoklonal dan dihancurkan oleh si induk kekebalan tubuh.
     Efek samping yang paling umum adalah demam, menggigil dan gejala mirip flu lainnya, seperti nyeri otot, nyeri kepala dan rasa letih. Umumnya cepat berakhir setelah masa pengobatan berakhir. Kadang-kadang, pasien merasakan flushing mendadak dan merasa panas di wajah. Hal ini biasanya berlangsung amat singkat. Beberapa pasien mengalami mual (mual) atau muntah. Obat anti muntah (anti-muntah) umumnya sangat efektif dalam mencegah maupun meringankan gejala-gejala ini sehingga lebih dapat ditoleransi.
Kadang-kadang, pasien merasakan nyeri pada bagian tubuh yang merupakan lokasi limfoma. Nyeri biasanya ringan dan dapat diatasi dengan obat anti-nyeri biasa.
Rituximab dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejalanya dapat berupa:
-  Gatal atau mendadak muncul warna kemerahan
-  Batuk, mengi atau sesak napas
-  Lidah bengkak atau rasa bengkak di tenggorokan
- Edema, atau pembengkakan karena kelebihan cairan dalam jaringan tubuh
  Reaksi alergi berat terhadap rituximab jarang ditemukan dan pasien diamati selama masa pengobatan akan munculnya gejala-gejala ini. Pasien harus melaporkan gejala yang dialaminya begitu muncul. Seringkali, yang perlu dilakukan hanyalah memperlambat atau menghentikan sementara tetesan intravena sampai reaksi alergi berakhir. Pasien umumnya diberikan anti-histamin sebelum mulai pengobatan untuk membantu mencegah atau mengurangi masalah ini.
  Penggunaan antibody monoclonal sebagai terapi kanker juga mampu menimbulkan efek samping, mulai efek samping yang ringan sampai efek samping yang menjadikan pasien dalam kondisi gawat darurat.
Efek Samping Umum :
* Reaksi alergi seperti gatal dan bengkak.
* Gejala seperti flu, padahal bukan flu
* Nausea
* Diare
* Pengeringan Kulit
Efek Samping yang jarang terjadi, namun berbahaya.
* Perdarahan hebat
* Gangguan jantung
* Reaksi anafilaksis (hipersensitif)
* Penurunan jumlah hitung darah



BAB  III
KESIMPULAN

                   Teknik Hibridoma adalah penggabungan dua sel dari organisme yang sama maupun berbeda sehingga menghasilkan sel tunggal berupa sel hibrid ( hibridoma) yang memiliki kombinasi dari sifat kedua sel tersebut. Teknik hibridoma ini sangat penting untuk menghasilkan antibodi dan hormon dalam jumlah yang besar.
                   Salah satu hasil dari teknik hibridoma ini adalah antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal adalah antibodi yang diperoleh dari suatu sumber tunggal atau sel klona yang hanya mengenal satu jenis antigen. Pembentukan antibodi monoklonal dilakukan dengan menggunakan kelinci atau tikus.
                   Cesar Milstein dan George Kohler, adalah dua ilmuwan yang pertama menghasilkan antibodi monoklonal di laboratorium pada tahun 1975. Pada tahun 1984 mereka menerima hadiah Nobel untuk penelitian ini. Masalah besar yang harus mereka atasi adalah limfosit cepat mati jika berada di luar tubuh. Milstein dan Kohler harus merangsang limfosit untuk dapat hidup di luar tubuh makhluk hidup dan berkembangbiak dalam tabung reaksi. Untuk melakukan hal ini mereka menggunakan sel-sel tumor. Sel tumor ini disebut juga sel mieloma. Sel-sel mieloma kehilangan kontrol untuk berkembangbiak secara terkendali dan menghasilkan satu jenis antibodi, oleh sebab itu tumor dalam tubuh dapat menjadi masalah yang serius dan beberapa jenis tumor dapat menyebabkan kanker. Mieloma dihasilkan oleh sumsum tulang yang terinfeksi oleh penyakit. Sel-sel tumor dapat masuk ke dalam tubuh dan dapat juga berkembangbiak di luar tubuh makhluk hidup. Para ahli menggunakan sel-sel tumor untuk menghasilkan sel-sel hibridoma.
       Teknik pembuatan antibodi monoklonal untuk pengobatan kanker,  langkah pertama adalah menginjeksikan antigen ke dalam tubuh tikus/ kelinci percobaan, kemudian limpanya dipisahkan. Sel-sel pembentuk antibodi pada limpa dilebur ( fusi ) dengan sel-sel mieloma ( sel kanker ). Sekitar 1% dari sel limpa adalah sel plasma yang menghasilkan antibodi, sedangkan 10% sel hibridoma akhir terdiri dari sel-sel yang menghasilkan antibodi. Setiap hibridoma hanya dapat menghasilkan satu antibodi.
       Disini teknik seleksi dikembangkan untuk mendidentifikasi sel tersebut, kemudian dilakukan pengembangan atau pengklonan berikutnya. Klona yang diperoleh dari hibridoma berupa antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal dapat disimpan beku, kemudian dapat diinjeksikan ke dalam tubuh hewan atau dibiakkan dalam suatu kultur untuk menghasilkan antibodi dalam jumlah yang besar.
  Kegunaan antibodi monoklonal cukup beragam. Para ilmuwan berharap dapat menggunakan antibodi monoklonal dalam pengobatan kanker. Beberapa jenis sel kanker membuat antigen yang berbeda dengan protein yang dibuat oleh sel-sel sehat. Dengan teknologi yang ada, dapat dibuat antibodi monoklonal yang hanya menyerang protein dan menyerang sel-sel tanpa mempengaruhi sel-sel yang sehat.
Kegunaan antibodi monoklonal lainnya adalah sebagai berikut
  1. untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin ( HCG ) dalam urin wanita hamil.
  2. untuk mengikat racun dan menonaktifkannya, contohnya racun tetanus dan kelebihan obat digoxin dapat dinonaktifkan oleh antibodi ini.
  3. mencegah penolakan jaringan terhadap sel hasil transplantasi jaringan lain.







DAFTAR PUSTAKA





Prawirohartono, S & Hadisumarto, S. 1997. Sains Biologi-3B. Bumi Aksara, Jakarta.

Rantam, Fedik A. 2003. Metode Imunologi. Airlangga University Press, Surabaya

Radji, Maksum. 2010. Imunologi & Virologi. Penerbitan PT. ISFI, Jakarta. (Online), http://vivalapharmacy.blogspot.com/2011/03/teknologi-pembuatan-antibodi-monoklonal.html. Diakses 25 April 2012.

Watson, James D., etc. 1988. DNA Rekombinan, Suatu Pelajaran Singkat. Erlangga, Jakarta.